Selaput Dara Buatan dapat Membahayakan Vagina

Selaput Dara Buatan dapat Membahayakan Vagina

Selaput Dara Buatan dapat Membahayakan Vagina

Pembicaraan mengenai keperawanan masih saja dianggap tabu. Meski demikian persepsi mengenai keperawanan identik dengan utuhnya selaput dara masih menjadi bahan perbincangan di masyarakat. Hal ini membuat perempuan harus menerima dampak negatif akibat penggunaan selaput dara buatan.

Selaput dara sendiri merupakan membran tipis yang berada di mulut vagina. Membran ini biasanya berbentuk bulan setengah untuk memudahkan darah menstruasi keluar ketika perempuan sedang datang bulan.

Selaput dara buatan adalah selaput dara palsu dari bahan sintetis yang diciptakan agar tampak kembali utuh. Biasanya, selaput dara buatan terbuat dari material gelatin yang berisikan dara buatan. Sehingga, saat berhubungan seksual, cairan berwarna merah akan pecah dan mengalir layaknya darah.

Produksi selaput darah buatan masih menuai kontroversi. Hal ini berkaitan dengan pengertian keperawanan yang didefinisikan sebagai selaput darah utuh ketika pertama kali berhubungan seksual. Padahal, dalam ilmu kedokteran, tidak semua perempuan memiliki selaput darah yang utuh. Selain itu, tidak semua selaput dara akan mengeluarkan darah ketika berhubungan intim untuk pertama kalinya.

Persepsi keperawanan dan selaput dara ini yang membuat selaput dara buatan marak beredar di toko online. Terkadang, bahkan, tidak memiliki izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Produk ini pun belum tentu menggunakan bahan yang digunakan oleh vagina, sehingga memungkinkan terjadinya risiko vagina saat penggunaannya.

Bahaya menggunakan selaput dara buatan

Penggunaan barang ini padahal hanya untuk meyakinkan pasangan bahwa seorang perempuan masih perawan saat malam pertama. Caranya dengan tampak seolah-olah berdarah saat melakukan hubungan seksual. Padahal, robeknya selaput dara bisa karena berbagai hal, tidak hanya karena berhubungan intim. Selain itu, banyak pula perempuan yang tidak mengeluarkan darah saat pertama kali berhubungan badan.

Meski banyak yang mengklaim aman menggunakan barang ini, faktanya alat ini bahkan belum mendapatkan izin untuk digunakan sebagai peralatan medis. Banyak ahli skeptis terhadap bahan yang digunakan dalam membuat produk ini. Kandungan pewarna dalam selaput dara buatan, misalnya, jika terbuat dari bahan murahan dapat menstimulasi membran vagina dan memicu infeksi.

Infeksi vagina bentuknya bermacam-macam, tapi gejala umum yang dirasakan saat mengalami infeksi adalah sebagai berikut.

  • Vagina terasa gatal, panas seperti terbakar, bengkak, atau bahkan terasa seperti mati rasa
  • Rasa perih terbakar juga dirasakan saat buang air kecil
  • Keputihan berwarna pekat, bukan bening atau putih. Volumenya lebih banyak dan/atau mengeluarkan bau yang tidak sedap
  • Nyeri atau sakit saat berhubungan seksual.

Ingat bahwa tidak ada tenaga medis yang menyarankan untuk menggunakan selaput dara buatan. Kandungan bahan yang digunakan pun belum terjamin keamanannya. Selain faktor keamanan dari bahan yang digunakan, faktor keamanan karena sterilisasi juga belum dipastikan. Untuk itu, efek kesehatan secara jangka pendek maupun jangka panjang belum dapat diketahui dengan jelas.

Secara umum, segala penggunaan produk pada area organ intim perlu mendapatkan perhatian dan kewaspadaan, karena dapat menimbulkan risiko kesehatan yang mengancam organ tubuh lainnya, seperti alergi, iritasi, dan peradangan. Jika bahan-bahan dari selaput dara buatan tersebut tercemar bakteri-bakteri berbahaya maka kemungkinan terjadinya infeksi sangat besar. Bahkan, apabila infeksi, peradangan, maupun iritasi terjadi dalam waktu lama, maka berpotensi menyebabkan masalah kesehatan yang lebih serius, seperti kanker pada daerah genitalia wanita, yaitu pada daerah kemaluan, vagina, leher rahim, atau rahim.

Leave a Reply